Bisnis Online dan Jasa SEO

Jasa Ahli Blogger Terbaik di Medan

Bisnis Omset Ratuan Juta Rupiah Perbulannya

Tekun, kerja keras dan action adalah kunci sukses meraup omset keuntungan ratusan juta rupiah dari setiap kegiatan bisnis yang dijalankan, meskipun bisnis yang dijalan tersebut berada di kaki lima. Ya, setidak-tidaknya dibarengi dengan bermodalkan ketekunan dan kegigihan itulah seseorang yang hanya tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) dapat menjadi wirausahawan sukses di Indonesia.

 

Bisnis Jualan Omset Ratusan Juta Perbulan

 

Sebut saja namanya Suyati Hartaman, tak pernah bercita-cita untuk menjadi wirausahawan yang sukses seperti saat ini. Dia nya sadar diri, bahwa berbekal pendidikan yang dia dapatkan di bangku sekolahan hanyalah pas-pasan untuk bisa survive di kota tempat tinggalnya saat ini.

 

Namun, berbekal kerja keras yang telah dilakukannya beberapa tahun belakangan ini, mampu membalikkan nasib ibu rumah tangga (irt) dengan dua putri ini. Ikhwal sukses Suyati Hartaman adalah berawal dari sebuah gerai pinggir jalan berukuran 6×8 meter berlokasi di Jalan Pancing atau Jalan William Iskandar, Kota Medan, yang dia sewa sejak lima tahun yang lalu.

 

Modal awal yang digunakan juga tidak lebih dari Rp 30 juta, perempuan asal Lima Puluh, Kabupaten Batubara ini mencoba satu peruntungan untuk membuka bisnis pisang goreng, tahu goreng, tempe goreng, bakwan goreng, ubi goreng, suhun goreng, dlsb. Keberanian ibu rumah tangga Suyati Hartaman membuka gerai jajanan jenis goreng-gorengan boleh diacungkan jempol dan aplus.

 

Mengapa ? Pasalnya, hampir di setiap sudut jalan di Kota Medan pasti ditemui jajanan pasar jenis ini. Namun, berkat adanya inovasi produk yang di beri nama “Pisang Goreng Kriuk Kriuk” ini telah memberikan brand tersendiri yang sangat diminati banyak masyarakat Medan. Memang sedikit menggelitik, ketika mendengar kita mendengar kata “pisang goreng kriuk kriuk” tersebut, dan pasti menimbul sebuah pertanyaan apakah pisang goreng yang dimasak tersebut benar-benar kriuk kriuk ketika di kunyah dalam mulut.

 

Menurut si empunya, nama kriuk ini terinspirasi dari produk mie instant yang banyak dijual, sehingga di inovasilah bagaimana caranya agar pisang, tempe, ubi, tahu, suhu yang digoreng benar-benar berbunyi kriuk ketika di kunyah di dalam mulut.

 

Ibu rumah tangga ini berpikir, nama jajanan gorengan yang dipadukan dengan nama kriuk akan bisa menjadi magnet tersendiri bagi para pembeli. Ibu Suyati Hartaman bercerita, ia nya mendapat ide berbisnis jajanan goreng ini berawal dari menjamurnya gerai-gerai yang menjual jajanan pisang goreng yang berada di daerah Jalan Pancing (William Iskandar).

 

Memang kami melihat, sekitar tahun 2014 lalu di seputaran jalan ini banyak beroperasi warung kaki lima yang menjual panganan goreng, dan yang paling laku adalah goreng pisang raja, ujar ibu kelahiran Lima Puluh Kab. Sergai ini. Setelah mengantre dan ikutan mencoba untuk mencicipi cita rasa goreng pisang raja yang memang saat itu sedang booming, barulah kemudian ibu Suyati menganalia cita rasa, tepungnya dan goreng pisangnya begitu unik, namun dari segi rasa masih terasa kurang nikmat dan sedikit kurang renyah.

Ibu Suyati memutuskan untuk mengkreasikan pisang goreng miliknya dengan rasa yang berbeda dan desain bentuk yang beda pula. Kemudian juga, minyak penggorengan yang digunakannya juga terus diganti setelah enam jam pemakaian. Tujuannya adalah agar lebih bersih dan tidak menggunakan minyak yang memiliki kolesterol tinggi.

 

Bicara mengenai jenis pisang yang digunakan pada warung miliknya, Suyati memilih pisang kepok dan pisang raja yang berasal dari Kabupaten Karo, mengingat pisang dari Karo cukup banyak dan tidak kalah kualitasnya dengan pisang yang dari daerah lainnya.

 

Bermodalkan dari hasil coba-coba dan terus melakukan inovasi rasa maupun bentuk agar semakin menarik dan disukai penikmat jajanan goreng-gorengan, ide ibu rumah tangga (irt) dua anak ini berbuah manis.

 

Ketika pada hari pertama bisnis ibu rumah tangga ini penjualan pisang goreng kriuk bisa laku hingga 500 potong. Ya, mungkin ini dikarenakan adanya dukungan dari embel-embel kata “kriuk”, ternyata membuat orang makin penasaran dengan pisang goreng hasil olahannya. Tantangan yang cukup berat dalam membesarkan usaha, tentu tidak selalu berjalan mulus dan hal ini dianggap wajar oleh ibu Suyati. Stok bahan baku yang ia dapatkan terkadang kosong dan kondisi cuaca yang terkadang tidak bersahabat.

 

Pernah suatu ketika, ibu Suyati mensiasati mengganti bahan baku yang jenis pisangnya berbeda, namun kualitasnya masih setara dengan pisang kepok kuning dari Kab. Karo. Namun, hasilnya sebagian besar pelanggannya kecewa dan omset penjualan juga dratis menurun.

 

Belajar dari pengalaman itu, hingga kini ibu Suyati selalu menjaga mutu maupun rasa. Nah, ketika stok bahan baku tidak ada, maka gerai warungnya akan tutup pada esok harinya hingga ada stok bahan baku. Namun, agar hal tersebut tidak berlangsung terus menerus, maka saat ini dirinya dapat mengantisipasi kekosongan bahan baku pisang, tempe, suhu, ubi, tahun, dll. setiap hari ia bisa menerima 200-300 tandan pisang yang langsung didatangkan dari Tanah Karo.

 

Untuk menyimpan seluruh pasokan pisang dan yang lainnya, ia memusatkan pada satu gudang yang terletak di daerah seputaran Jalan Pancing Medan. Selain itu, Ibu Suyati Hartaman selalu menjaga citra dagangannya dengan cara menjadikan produknya bisa masuk ke semua kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia (lansia). Ibu ini mengatakan, walaupun berupa jajanan pasar pinggiran jalan, produknya bisa menjadi makanan yang bersih dan sehat, sehingga semua orang bisa menyukainya.

 

Usaha yang ia geluti hampir lima tahun sudah berjalan ini akhirnya bisa membuahkan hasil dan membuka beberapa gerai yang tersebar pada 5 gerai di seluruh Kota Medan, yakni di Jalan Rakyat, Jalan Krakatau, Jalan Pancing, Jalan Bahagia, dan Jalan Sisingamangaraja. Dimana saat ini telah ada pekerja berjumlah 25 orang. Keberhasilan ini juga disebabkan, ibu Suyati mau belajar berbagai tips sukses bisnis jualan di kaki lima, sehingga dapat meminimalisir kelemahan dan kekurangan dalam bisnis ini.

 

Dia mampu menjual lebih kurang 1.000 potong gorengan pada hari biasa dengan harga per potong Rp. 1.000. Sementara, di akhir pekan bisa mencapai 3.000 potong gorengan. Itu pun hanya untuk setiap warungnya. Jika dihitung-hitung, ibu Suyati bisa mengantongi omset penjualan Rp 1 juta per hari tiap gerainya. Bila saat ini ia memiliki 5 warung, berarti ibu Suyati memiliki omset penjualan Rp 5 juta per hari dan dalam sebulan omsetnya mencapai Rp 150 juta. Selain bisnis menjual goreng (pisang, ubi, tempe, tahu, suhun), Suyati melakukan inovasi baru, yakni membuat tungku kompor yang dapat menghemat 20% penggunaan bahan bakar dalam pemakaian gas 12 kg. Dan ini merupakan tips untuk memangkas biaya produksi.

 

Bila menggunakan tungku kompor gas biasa, biasanya setiap menggoreng hanya mampu menampung 20 panganan yang bisa di goreng. Akan tetapi sekarang dengan tips menggunakan tungku kompor hasil inovasi tersebut, bisa menggoreng hampir 100 pisang sekali goreng ataupun jenis gorengan lainnya, jadi cukup menghemat bahan bakar gas (bbg). Disamping itu, dengan tungku tersebut juga sangat menghemat waktu menggoreng dan calon pembeli juga tidak lama mengantre untuk menikmati gorengan yang panas dan lezat serta kriuk gurihnya.

 

Berdasarkan penjelasan ibu Suyati Hartaman, bahwa rata-rata setiap menggoreng tanpa menggunakan tungku kompor inovasi ini adalah berkisar 15–20 menit, namun berkat adanya tungku kompor ini maka waktu memasak menjadi 10 menit saja. Dengan kesuksesan yang sudah diraihnya saat ini tidak membuat bu Suyati menjadi puas diri, namun akan terus mencari celah untuk berinovasi agar dapat memasarkan produknya ke segala lapisan konsumen yang ada di Kota Medan. Hal ini terlihat dari rencananya ke depan yang akan menjual goreng kriuk ke tempat-tempat yang tidak mungkin dijangkau olehnya, seperti komplek perumahan yang ada.

 

Tidak hanya komplek, terminal ataupun kampus-kampus juga nantinya akan menjadi target pemasaran berikutnya dengan cara menggunakan sepeda motor atau becak bermotor (betor) yang sedang di modifikasi untuk menunjang cita-cita ini.

 

Bila terus berkembang dan omset pun terus meningkat, bahwa konsep bisnis ini dalam rangka untuk memasarkan produk melalui delevery order (do) menggunakan sepeda motor adalah salah satu solusi terbaik untuk melayani para konsumen yang selalu meminta dirinya menjadi partner bisnis baru.

 

Serta bila memungkinkan, bisnis jualan gorengan kaki lima dan pinggiran jalan ini, bisa dipasarkan dengan menggunakan kecanggihan teknologi dan penggunaan dunia digital. Bisa juga disiasati dan diinisiasi pemasarannya dengan menggunakan media sosial (whatsapp, twitter, linkedin, facebook, path, youtube, line, dll).

 

Kemudian juga bisa dengan menggunakan website atau blog yang secara khusus dimodifikasi sebagai etalase atau toko yang memajangkan produk gorengan yang dipasarkan secara online. Tentu saja harus didukung Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkompetensi terbaik untuk mengelola website/blog sehingga ramah dengan search engine, misalnya dengan menggunakan SEO ataupun bekerjasama dengan layanan jasa SEO profesional yang dikelola oleh para ahli SEO Indonesia.

 

Ya, intinya bisnis jualan di kaki lima yang beromset ratusan juta rupiah perbulan ini harus dioptimalkan untuk melayani konsumen secara offline maupun online, sehingga kedepannya bisa menjadi salah satu bisnis omset milyaran rupiah perbulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pakar SEO Bisnis Online © 2017 Frontier Theme
error: Content is protected !!