Bisnis Online dan Jasa SEO

Jasa Ahli Blogger Terbaik di Medan

Peluang Strategis Caleg Perempuan di Parlemen 2019

Regulasi keterwakilan perempuan di parlemen (lembaga legislatif), semakin mendapatkan ruang penting dalam kancah politik Indonesia. Regulasi ini terlihat jelas dari adanya pengaturan tentang kuota 30 persen calon anggota legislatif perempuan mulai dari proses pencalonan (daftar calon yang diajukan ke KPU, yaitu setiap mendaftarkan tiga nama bacaleg di daerah pemilihan (dapil) paling kurang terdapat satu perempuan).

 

Adanya aturan tentang kuota 30% keterwakilan bagi caleg perempuan per-dapil di pemilu 2019, secara tegas diatur dalam Pasal 245 dan Pasal 246 Ayat (2) Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Selanjutnya hal ini juga diatur dalam Pasal 6 Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) No. 20 Tahun 2018.

 

Intinya, ada ketentuan tegas yang mewajibkan partai politik (parpol) mencalonkan sekurang-kurangnya 30 persen berjenis kelamin perempuan dari total bakal caleg di tingkat pusat (DPR), DPRD provinsi, maupun DPRD kabupaten/kota. Bila tidak memenuhi ketentuan ini, maka pencalonan bacaleg tidak dapat diterima (tidak memenuhi syarat).

 

Memang kalau dilihat dari perjalanan pemilu legislatif di Indonesia, sebelum Pemilu 2014, aturan kuota keterwakilan perempuan menuju ke lembaga legislatif sudah diterapkan. Namun, pada Pemilu 2009, bagi partai politik yang tidak menjalankannya, secara yuridis formal tidak mendapatkan sanksi dari penyelenggara pemilu (KPU).

 

Pasca runtuhnya orde baru, pelaksanaan pemilu telah memperlihatkan angka keterwakilan perempuan yang mendaftar atau didaftarkan, serta duduk di parlemen meningkat cukup signifikan. Namun, bila dibandingkan dengan legislator yang berjenis kelamin pria, angka tersebut belum memuaskan apalagi mencapai angka 30%.

 

Peluang Kursi di DPR - Parlemen Perempuan Indonesia

 

Data dari Pusat Pengkajian dan Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR pada 2010, terdapat 8,8 persen legislator perempuan yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat hasil pemilu 1999. Angka itu meningkat menjadi 11 persen pada pemilu 2004, dan meningkat lagi menjadi 18 persen pada 2009. Sedangkan di pemilu 2014 jumlah legislator perempuan sebesar 17,32 persen atau setara 97 orang yang berhasil duduk di kursi DPR RI.

 

Artinya, jumlah para legislator perempuan di parlemen dari hasil pemilu ke pemilu, terutama hasil pemilu 2014 lalu, tidak memenuhi harapan tentang kuota keterwakilan perempuan 30% di parlemen sebagaimana yang sudah diberi jalan oleh UU maupun PKPU.

 

Penulis melihat bahwa belum terpenuhinya politisi perempuan yang duduk di kursi legislatif sebagaimana diamanatkan undang-undang, dipengaruh banyak faktor, antara lain: belum duduknya pemahaman yang sama ditengah-tengah masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan dalam ranah politik Indonesia. Kurang adanya pemahaman ini, sangat berpengaruh dan membatasi ruang politik perempuan terhadap peran serta perempuan di lembaga legislatif. Belum lagi, ada perempuan yang berbakat, cerdas, punya potensi, tapi kemudian suaminya tidak mengizinkan atau tidak mendukung tugas-tugasnya sebagai seorang legislator pasca terpilih.

 

Miris memang, apalagi ketika masa tahapan kampanye tiba, politikus perempuan kerap tidak mendapatkan panggung yang setara dibandingkan politikus pria. Sebab, kemampuan perempuan pada umumnya dalam bidang finansial kalah besar dari kaum pria. Ketika terjun ke audience dan bebas berkompetisi dengan legislator laki-laki menjadi tidak berimbang. Ya dalam artian, politisi perempuan terkesan tidak memiliki bekal yang sama dengan kaum laki-laki. Itulah mengapa jumlah keterwakilan 30 persen belum terpenuhi dari total keseluruhan anggota parlemen yang terpilih di pemilu 2014.

 

Namun mengingat bahwa kunci sukses untuk bisa mendapatkan satu kursi di DPR tidaklah semata-mata hanya modal finansial ataupun koneksi elit semata. Strategi, komitmen dan kerja keras dalam membangun basis konstituen harus terus dilakukan oleh semua caleg, baik pria maupun perempuan.

 

Bila seorang caleg bekerja dengan sungguh-sungguh membangun konstituennya, maka peluang untuk meraih kursi di parlemen terbuka lebar, walaupun pertarungan di sesama dapil akan semakin keras dan ditambah dengan sistem peringkat atau metode konversi suara sainte lague yang digunakan pada pemilihan umum 2019 (pasal 420 UU Nomor 7/2017) mudah-mudahan dapat menekan potensi terjadinya konflik.

 

Nah, berhubung penerapan aksi afirmasi kuota 30% keterwakilan perempuan wajib diterapkan, wajar saja bila masih ditemukan calon perempuan yang sebetulnya tidak siap atau belum siap untuk menghadapi dinamika politik yang luar biasa. Mengapa? Karena, partai politik (parpol) terkesan masih menerapkannya hanya untuk memenuhi ketentuan semata.

 

Pendapat ini terlihat, dimana sejak awal parpol tidak mempersiapkan berbagai konsep dan strategi penguatan terhadap pentingnya kapasitas calon-calon legislator perempuan dalam kancah politik nasional. Apalagi di tingkat daerah, politisi perempuan agak sedikit langka yang memiliki kapasitas, sehingga perempuan-perempuan sekarang kurang memilik kekuatan dalam menjalani dinamika politik yang berkembang saat ini. Misalnya caleg perempuan kurang mendapat panggung publik selama masa kampanye terbuka. Kita melihat bahwa ruang itu lebih banyak diberikan kepada elite partai atau caleg partai yang laki-laki. Bagaimana caleg perempuan bisa memiliki peluang yang sama dalam menyampaikan visi dan misinya, atau berinteraksi dengan pemilih di forum-forum publik dalam kampanye terbuka lainnya. Ditambah adanya kungkungan dari adat istiadat, sistem kekerabatan yang ada dan berkembang di Indonesia.

 

Padahal, bila dilihat dari latar belakang pendidikan, mayoritas caleg perempuan adalah sarjana dan pasca sarjana, serta memiliki segudang kompetensi dan juga memiliki kemampuan lebih baik. Tapi semuanya masih terhalang adanya persepsi “berurat akar” yang berdampak pada pemilih akan menjatuhkan pilihannya kepada kandidat caleg laki-laki manakala opsinya hanya ada dua jenis dan dengan kapasitas yang sama pula. Sebab itu, pencanangan pendidikan politik bagi pemilih dinilainya sangat strategis menjadi penopang kesuksesan adanya kuota 30% keterwakilan perempuan di parlemen.

 

Artinya, dari sekarang pendidikan politik untuk menjaring caleg perempuan harus gencar dilakukan, misalnya melalui organisasi perempuan untuk kontiniu melakukan pendampingan tentang bagaimana mereka bisa memiliki dan mengatur strategi pemenangan, membekali caleg perempuan dengan berbagai ilmu kepemiluan, memberikan referensi tentang strategi debat publik atau dialog saat kampanye, dlsb.

 

Dengan begitu, jumlah 30 persen keterwakilan perempuan nantinya tidak dimaknai secara simbolik hanya memenuhi kuota saja, melainkan dapat dimaknai secara substansial karena banyak persoalan-persoalan bangsa ini yang juga perlu keterlibatan ide dan action perempuan di dalam menentukan arah kebijakan maupun mengawasi kebijakan eksekutif nantinya.

 

Disamping itu peluang perempuan untuk bisa melenggang secara mulus mendapatkan kursi DPR, DPRD ataupun DPD sebenarnya sangat besar mengingat jumlah Daftar Pemilih Sementara (DPS) ataupun dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), maupun yang ikut menggunakan hak pilih di tiap-tiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) adalah lebih banyak perempuan. Artinya, seandainya perempuan memilih caleg perempuan, maka sudah bisa dipastikan jumlah legislator perempuan yang duduk di kursi parlemen lebih banyak ketimbang legislator laki-laki. Namun hal ini masih terbalik. Mudah-mudahan kedepannya jumlah legislator perempuan dapat melampaui angka 30% dimaksud bila melihat potensi diatas.

 

Demikian artikel yang membahas tentang: “Peluang Strategis Caleg Perempuan di Parlemen 2019”, semoga bermanfaat bagi para perempuan yang hendak berkecimpung di dunia politik dan menjadi legislator. Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

 

Penulis: N. Hasudungan Silaen, SH

Advokat / Penasehat Hukum di Medan

Konsultan Kepemiluan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pakar SEO Bisnis Online © 2017 Frontier Theme
error: Content is protected !!