Bisnis Online dan Jasa SEO

Jasa Ahli Blogger Terbaik di Medan

Media Sosial di Pusaran Kampanye Pemilu Dan Pilkada

Indonesia yang menganut sistem pemilihan umum langsung, baik pemilu presiden (pilpres) dan pemilu legislatif (pileg), tentu saja membutuhkan satu ide metode kampanye yang efektif dan tepat sasaran kepada para pemilih (konstituen) hingga ke pelosok negeri.

 

Kampanye Pemilu Daring - Sosialisasi Pilkada Online

 

Sementara perkembangan jaman dan teknologi telah menggeser metode kampanye konvensional, seperti pengerahan massa untuk rapat umum dan pemasangan spanduk maupun baliho pada setiap sudut mulai terasa hampa dalam rangka mendulang suara. Meskipun, di balik keramaian massa dengan ragam atribut yang digunakan, terasa sepi dan tak bermakna.

 

Mengapa? Karena teknologi digital telah menggeser adanya keramaian ide dan gagasan, maupun visi misi terasa mulai berpindah ke ruang maya (online). Lihat saja, diskusi atau perdebatan, bahkan saling tuduh menuduh secara frontal begitu bebas terjadi di berbagai media sosial (medsos), seperti whatsapp, facebook, twitter, dll.

 

Memang segmentasi pengguna media sosial lebih kepada kalangan yang relatif terdidik dan memahami penggunaan internet. Kondisi inilah yang menyebabkan metode kampanye menggunakan media sosial mulai dianggap lebih efektif bila dibandingkan dengan menggunakan baliho, poster, spanduk, stiker, umbul-umbul, kaos, dll. Artinya, banyak orang yang relatif terdidik dan “well inform” ini tidak akan percaya dengan isi baliho atau spanduk, tapi lebih mempercayai pada perkataan teman atau koleganya yang ada di media sosial.

 

Nah, dalam realita penggunaan medsos dalam hal pelaksanaan pemilu ataupun pilkada, sudah dirasakan kedasyatannya dalam hal pengaruh mempengaruhi orang bagi orang lain. Berarti dalam dinamika penggunaan medsos untuk kampanye, tidak lagi berlaku prinsip “one man one vote”, melainkan satu orang (1 akun) bisa memiliki kekuatan setara puluhan, ratusan, atau ribuan lebih orang.

 

Hal diataslah yang menjadi kelebihan media sosial yang sangat efektif sebagai sarana pertukaran ide, gagasan maupun visi-misi. Penyebaran berbagai ide dalam bentuk isi kampanye yang dishare pada media sosial, berlangsung amat cepat dan hampir tanpa batas. Misalnya di medsos twitter, hanya dengan satu kali men-twit, informasi dengan cepat tersebar luas ke seluruh follower seperti cara kerja pada bisnis multi level marketing (MLM), begitu seterusnya secara berantai.

 

Disamping itu, efektivitas media sosial tidak hanya memiliki nilai plus dari segi jumlah penggunanya yang sangat masif. Karakteristik media sosial itu sendiri juga merupakan  kekuatan utama untuk menjaring audience atau konstituen. Sehingga layak bila media sosial dijuluki sebagai sarana komunikasi yang dapat memengaruhi setiap individu ataupun kelompok sosial, ditambah setiap orang memiliki pengaruh ke sekelilingnya.

 

Meskipun medsos memiliki daya memengaruhi yang sangat kuat, para pengguna yang berkategori well inform dan terdidik ini tidak mudah untuk dibohongi, tapi kecenderungan sangat mudah terpengaruh dan simpati pada hal-hal yang membuat mereka tersentuh. Ketenaran dan kekuatan politik yang menempel pada diri kontestan pemilu/pilkada, sedikit banyaknya disumbang dari adanya interaksi dan perbincangan di medium online yang mengarah pada kekaguman setiap orang pada keseriusan calon presiden/wakil presiden, calon legislatif (DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota), DPD dan para calon kepala daerah dalam mengurus rakyat.

 

Di dalam dimensi dan ruang media sosial hanya informasi yang sesuai fakta dan data yang berharga dan otentik. Untuk mencapai keyakinan bahwa informasi itu sesuai fakta dan data yang sebenarnya, sering kali muncul perdebatan yang panjang. Dalam berbagai hal yang menarik perhatian publik, tak ayal sering terjadi tesis yang dilawan oleh argumen antitesis. Keajaiban sering kali muncul di media sosial dari perdebatan adalah berupa tercapainya sintesis. Tidak perlu ada seseorang yang menyimpulkan, tapi dari perdebatan tersebut sering kali muncul “kesepakatan diam-diam” di antara pihak-pihak yang berdebat beserta para “pembacanya”.

 

Munculnya pendapat berupa sintesis tersebut adalah tidak instant dan melalui proses dalam rentang waktu yang cukup panjang. Nah, karena sifatnya yang memiliki rentang waktu panjang, media sosial tidak serta merta memiliki pengaruh signifikan bagi kampanye online di medsos yang sifatnya mobilisasi massa. Artinya, pekerjaan yang dilakukan di media sosial bergerak perlahan dengan memperbincangkan visi, gagasan, misi, ide, maupun ideologi. Pengguna media sosial bukan orang yang bisa digiring begitu saja, tapi bergerak dengan kemauan dan kesadaran sendiri setelah melalui proses tesis, antitesis dan sintesis.

 

Media sosial hanya berpengaruh signifikan terhadap politikus yang telah bekerja keras sepanjang waktu. Perlu disadari kerja dimaksud bukan merupakan pekerjaan instan lima tahun sekali. Mereka yang tetap intens menyebarkan ide-ide dan berdiskusi dalam bidang tertentu, apalagi yang secara mendalam sepanjang waktu akan mendapat hasilnya saat penyelenggaraan pemilu/pilkada.

 

Medsos tidak cocok untuk politisi “pepesan kosong”, tapi hanya bagi mereka yang punya kemampuan berpikir dan berdialektika kepada masyarakat. Media sosial juga tak cocok bagi yang egois, melainkan bagi mereka yang memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. Hanya politisi yang memiliki simpati dan empati terhadap permasalahan rakyat yang akan menuai simpati dan empati publik saat tiba datang musim pemilu atau pilkada.

 

Satu hal yang perlu dipahami, bahwa sifat kampanye yang menggunakan medium online media sosial bisa merupakan kebalikan dari kampanye di dunia nyata. Jika, di dunia nyata kampanye bisa begitu berisik, keras suaranya tapi tanpa bukti nyata, pada media sosial adalah antitesis dari berisik dan bising tersebut, yaitu tetap masih memiliki makna. Setiap suara punya arti, memiliki dalil dan pembuktian sendiri-sendiri.

 

Implementasi politik di medsos bisa merupakan politik sejati, yaitu politik yang benar-benar berisi ide-ide dan aksi nyata untuk kebaikan umum yang kemudian dikemas dengan baik untuk dibagikan kepada masyarakat pengguna medsos. Inilah politik yang memiliki daya dobrak jangka panjang. Berbagai isu sosial yang menjadi beban masyarakat sering kali mendapatkan solusi dan terselesaikan dengan baik berbekal postingan di media sosial.

 

Meskipun begitu, medsos juga membutuhkan adanya etika, regulasi yang jelas dan komprehensif. Ingat, bahwa kecurangan dan pelanggaran sangat terbuka lebar terjadi saat regulasi yang ada memiliki banyak celah. Salah satu contoh, kita masih sering melihat dan membaca postingan para warganet yang tetap melakukan kampanye di media sosial meskipun sudah masuk pada masa tenang ataupun sedang berlangsung pungut hitung. Kemudian juga hampir tiap menit kita membaca berbagai status warganet fb yang menyebarkan kampanye negatif, hitam dan bahkan banyak ditemukan modal kampanye yang hoax dan bahkan sampai melanggar hukum yang dilarang oleh UU ITE (Informasi Transaksi Elektronik), KUHPidana yang lazim dikategorikan sebagai “Cyber Criminal”.

 

Permenkominfo Nomor 14/2014 tentang Kampanye Pemilu melalui Penggunaan Jasa Telekomunikasi perlu disosialisasikan ke seluruh lapisan masyarakat dan diperkuat dengan peraturan KPU (Komisi Pemilihan Umum) dan Peraturan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu).

 

Terkait adanya potensi pelanggaran lainnya, terutama tentang kejelasan aktor dan materi kampanye yang hendak dibagikan, perlu ada aturan yang jelas untuk mencegah kampanye yang bersifat kampanye negatif, kampanye hitam, kampanye fitnah, berita-berita hoax yang ditujukan ke diri kontestan, terutama oleh akun-akun anonim milik perseorangan dan kelompok, maupun akun yang tak terdaftar resmi di KPU dan Bawaslu.

 

Dari beberapa kali penyelenggaraan pemilu 2009 dan 2014, bahwa intensitas penggunaan media sosial sudah dapat menjadi salah satu solusi meminimalkan besarnya biaya untuk kampanye, sekaligus untuk mengetahui ketidakadilan pada saat pelaksanaan pemilu/pilkada. Artinya, peran media sosial dapat jadi penyeimbang yang aktual disamping media siaran televisi yang sekarang tak lagi mampu mempertahankan independensi dan keadilannya. Mengapa? Karena hampir rata media televisi dimiliki para pengusaha yang sekarang sudah masuk dan menjadi pengurus inti berbagai partai politik (parpol).

 

Kondisi diataslah menyebabkan media televisi tersebut dinilai telah menjadi corong partai politik dari sang pemilik bisnis media. Di sinilah urgensi kehadiran media sosial dalam pusaran alam demokrasi dan keadilan pemilu yang sangat bermanfaat untuk menyuarakan ide, gagasan, program, visi dan misi terutama dalam konteks melaksanakan kampanye online yang dilakukan oleh para kontestan maupun para team pemenangan ataupun tim suksesnya.

 

Terkait bila tidak memiliki waktu dan kemampuan untuk menjalankan kampanye online di medsos secara baik dan komprehensif, maka tak ada salahnya menjalin kerja sama dengan para ahli kampanye pilkada online dan pakar sosialisasi caleg online, maupun konsultan pemilu 2019 yang membuka usaha yang bergerak di bidang jasa kampanye online yang sudah banyak terdapat di daerah pemilihan (dapil) anda bertempat tinggal.

 

Demikian artikel yang membahas tentang “Media Sosial di Pusaran Kampanye Pemilu Dan Pilkada”, semoga ada manfaatnya bagi warganet maupun para sobat blogger. Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pakar SEO Bisnis Online © 2017 Frontier Theme
error: Content is protected !!