Bisnis Online dan Jasa SEO

Jasa Ahli Blogger Terbaik di Medan

Politikus Caleg Perempuan Harus Tangguh

Politikus perempuan DPC PDI P yang juga bacaleg DPRD Medan dari dapil V Juli Utari menegaskan jika pertarungan politik perempuan di Pemilu Legislatif 2019 nanti terasa cukup berat. Apalagi diyakini tidak semua partai politik (parpol) yang bisa lolos parliamentary threshold (PT) 4% (empat persen) dari suara sah nasional. Sehingga mau tidak mau, caleg perempuan juga harus tangguh mendulang suara di dapilnya masing-masing.

 

Caleg Perempuan DPRD Pemilu Legislatif 2019

 

Nah, terkait dengan hal itu, maka bagi politisi perempuan yang maju sebagai caleg (terutama yang incumbent), maka yang dilihat masyarakat adalah apa saja yang telah dilakukannya selama 5 tahun menjadi anggota DPR, baik pusat (RI), DPRD Provinsi dan DPRD Kab/Kota. Apakah pekerjaan atau program saat kampanye sudah sesuai ataukah belum selesai sebagaimana yang telah dituangkan dalam visi dan misi saat kampanye sebelum masuk parlemen?

 

Memang, seandainya selama 5 tahun ini tak berbuat apa-apa, tentu akan sulit terpilih lagi dan pileg 2019 menjadi salah satu jalan untuk menghukum mereka yang tidak menjalankan amanat rakyat. Mengapa? Karena, rakyat sekarang ini sudah pintar melihat latar belakang dan curiculum vitae para calegnya. Apalagi bagi caleg yang partainya tersandung-sandung dengan masalah hukum, seperti korupsi tentu sedikit banyaknya akan mendapatkan citra buruk dimata masyarakat pemilih akibat dari adanya kasus korupsi yang dihadapi para legislator maupun kepala daerah yang diusung sebelumnya.

 

Nah, untuk mencuri hati dan mengambil simpati para pemilih, keberadaan politikus yang menjadi caleg perempuan di masyarakat terutama di dalam lingkup kerja parlemen (apakah DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota) harus menjadi petarung gagasan dan memiliki berbagai ide-ide kreatif yang berpihak kepada kepentingan perempuan dan kesejahteraan perekonomian keluarga (ukm, umkm dan bisnis rumah tangga), tegas caleg dapil v medan ini.

 

Juli menjelaskan bahwa keinginan dirinya terjun ke dunia politik dengan bergabung di DPC PDI Perjuangan Kota Medan dan menjadi salah seorang caleg perempuan terbaik di dapil V Medan haruslah mempunyai basis sosial dan jaringan yang kuat. Jadi, keinginan yang bukan datang tiba-tiba untuk menjadi anggota legislatif DPRD Kota Medan. Disamping itu juga, setiap caleg harus mengetahui problematika daerah pemilihannya, sehingga sudah tahu apa yang harus dikerjakan dan mengambil solusinya ketika nantinya terpilih menjadi anggota parlemen. Itulah peluang strategis caleg perempuan di parlemen 2019 agar bisa eksis dan diperhitungkan sepak terjangnya dalam rangka memperjuangkan konstituennya.

 

Sayang, mayoritas para caleg perempuan DPRD Kota Medan yang sudah terdaftar dalam daftar caleg sementara masih kurang tangguh dan tak mempunyai basis massa yang kuat, dan banyak yang tak tahu tugas dan kewajibannya bila nanti menjadi anggota dewan perwakilan rakyat. Lebih parah lagi, tak mengetahui aspirasi rakyat dari daerah pemilihan yang diwakilinya, dan tak pernah berkunjung maupun saat “reses” ke daerah pemilihannya untuk menampung aspirasi masyarakat. Itu sangat memprihatinkan, ujar caleg perempuan pdi perjuangan ini.

 

Menurut Juli, caleg perempuan harus menyadari dari awal bahwa kursi DPRD Medan itu bukan untuk kepentingan pribadi dan keluarga maupun golongannya, melainkan adalah untuk kepentingan rakyat dapil V Medan (Kecamatan Medan Johor, Maimun, Selayang, Sunggal, Tuntungan, dan Kecamatan Polonia) sebagai jalan dan alat perjuangan untuk memenuhi apa yang nantinya diperjuangkan untuk rakyat, bangsa, dan negara ini. Itulah antara lain yang akan menjadi kunci yang harus dipegang teguh caleg perempuan, meskipun tak semua pemilih perempuan secara otomatis memilih caleg perempuan, dan apalagi jumlah angka golput pada pemilu 2014 dan pemilihan gubernur sumatera utara (pilgubsu) 2018 yang lalu, masih berkategori sangat besar, katanya mengingatkan.

 

Berbarengan dengan itu, Juli melihat masih banyak masyarakat pemilih yang juga belum memahami tugas dan kewajiban anggota DPRD Medan, kemudian juga masih banyak ditemukan curi start kampanye, transaksi jual-beli suara (money politics) ketika berlangsung pemilu, pembagian sembako, kampanye hoax, kampanye hitam dan kampanye negatif terutama di medsos (facebook, instagram, whatsapp dan twitter), kampanye saat minggu tenang, dan lain sebagainya.

 

Semua itu akan berimplikasi pada pemilu 2019, sehingga rakyat pun tak tertarik lagi pada ide, visi, misi dan gagasan yang disuarakan para caleg saat kampanye. Jadi, pemilih dan caleg itu sendiri belum tangguh, sehingga semua kedepannya harus lebih kerja keras lagi agar menghasilkan pemilu yang berkualitas, berintegritas dan bermartabat, pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pakar SEO Bisnis Online © 2017 Frontier Theme
error: Content is protected !!