Bisnis Online dan Jasa SEO

Bisnis Online Medan dan Jasa Ahli SEO Blogger Terbaik

Strategi Marketing Politik Caleg 2019

Strategi politik dalam even Pemilu Presiden dan Legislatif (pilpres & pileg) yang jatuh 17 April 2019 mendatang, mulai terpantau jelas di media sosial (medsos) yang mana aroma kompetisi antar partai politik (parpol), calon legislatif (caleg) dan antar simpatisan semakin memanas. Terkadang dinamika kompetisi yang ketat dalam hal untuk memperebutkan suara rakyat ini dibarengi dengan muncul berita-berita hoax, kampanye hitam, kampanye negatif dibarengi dengan adanya gambar meme yang bisa membuat senyum, ketawa ataupun mengumpat bagi orang-orang yang membaca dan melihatnya.

 

Strategi Marketing Politik Caleg di Pemilu Pileg 2019

 

Jadi wajar bila parpol ataupun sang caleg maupun para konsultan politik harus bekerja keras dalam kontestasi pemilu dalam rangka “merayu” kepercayaan rakyat di tengah kecenderungan timbulnya apatisme politik dan tingkat golput yang tinggi. Terlebih saat ini marak muncul berbagai produk kompetitif berupa konsep, ide, gagasan, visi, misi dan program solutif yang dikemas sangat unik dan kreatif untuk ditawarkan oleh rival-rival parpol atau caleg itu sendiri.

 

Disamping itu, bila ditilik pada pelaksanaan pemilu 2014, dimana jumlah golput sebesar 24,89 %, artinya jumlah tersebut sangat signifikan seandainya bisa digarap untuk memilih. Kemudian pada pelaksanaan pemilihan gubernur/wakil gubernur sumut (pilgubsu) tanggal 27 Juni 2018 lalu, jumlah partisipasi pemilih di provinsi sumatera utara ada di kisaran angka 68,54 persen. Dengan kata lain, angka golput di pilgub sumut jumlah sekitar 31,46%. Maka dari itu sangat dibutuhkan beberapa strategi pemasaran offline dan online yang unik, brilian dan kreatif agar parpol yang bersangkutan bisa menggarap golongan putih ini dan juga tidak kuatir akan ditinggalkan masyarakat pemilih.

 

Nah, dengan adanya satu strategi jitu nan baik, diharapkan proses pemasaran (kampanye) pengaruh dan memengaruhi pemilih menjadi tidak monoton dengan hanya menggunakan satu gaya marketing yang itu-itu saja dan sangat membosankan. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan adanya upaya sedemikian rupa agar masyarakat pemilih tidak bosan dengan metode “jualan” parpol saat tiba saatnya tahapan kampanye nanti. Jadi, jangan sesekali sepele dengan strategi pemasaran yang dikemas secara kreatif dan unik.

 

Di era pemasaran, kita mengenal istilah marketing 1.0, 2.0, 3.0 dan sekarang era marketing 4.0 (baca four point o). Nah, sekedar untuk memahaminya, silahkan simak yang dibawah ini.

 

1) Strategi Marketing 1.0

Pada jaman munculnya marketing 1.0 dapat dipahami bahwa produk sebagai raja, dimana yang dijual adalah kualitas teknis menurut kacamata produsen. Disini konsumen tidak diberi ruang untuk komentar atau memberi tanggapan terhadap produk tersebut.

 

Strategi marketing 1.0 ini bila dikaitkan dengan kepemiluan, maka contohnya: “ngotot bahwa anda adalah caleg yang berkualitas terbaik di dapil v medan” dan tak peduli dengan kompetitor lain ataupun ada komentar tentang diri anda.

 

Untuk mewujudkan teknis pemasaran 1.0 ini, maka strategi yang dapat dilakukan adalah dengan cara, seperti: membagi-bagi brosur, kartu nama, stiker kepada siapapun dan di manapun sepanjang itu masuk dalam daerah pemilihan (dapil) anda. Kemudian anda menganggap bahwa masyarakat pemilih itu sama atau rata-rata sama, bergantung pada iklan sehingga biaya iklan kampanye sangat tinggi, serta berusaha memuaskan konstituen anda.

 

Namun, di era teknologi komunikasi yang serba digital, sebenarnya ada beberapa yang sudah bergeser dari teknik marketing 1.0 ini, di antaranya adalah pasar (baca rakyat pemilih) saat ini sudah mulai jenuh dengan banjirnya brosur, umbul-umbul, poster, stiker, spanduk ataupun iklan di mana-mana. Kemudian juga masuknya era internet telah turut merubah perilaku masyarakat menjadi horizontal, yang dulu sangat percaya dengan berbagai brosur, sekarang di era teknologi mereka juga butuh “tanggapan” orang lain atas produk (baca sang caleg), dan berbagai informasi tentang keluhan yang ada.

 

2) Strategi Marketing 2.0

Di era penggunaan marketing 2.0 (baca two point o), muncul konsep bahwa konsumen sebagai raja. Konsep yang dijual adalah kualitas menurut kacamata konsumen. Jadi, harus terjadinya komunikasi dua arah dan konsumen diberi ruang seluas-luasnya untuk memberikan tanggapan positif dan negatif atas produk yang beredar dipasaran.

 

Artinya, marketing 2.0 menitikberatkan pelayanan kepada konsumen lebih besar. Memberikan kepuasan dan kesetiaan konsumen adalah titik kulminasi tertinggi yang ingin dicapai semua produsen.

 

Terkait dengan pemilihan calon legislator yang akan duduk di kursi parlemen, tentu saja mendengarkan tanggapan dari rakyat ataupun konstituen terhadap diri anda, baik pribadi maupun kinerja selama ini adalah keharusan bila ingin dipilih dan menang pileg. Untuk itu metode blusukan ke masyarakat ataupun “reses” anggota dewan ke dapil-nya adalah dalam rangka mendengarkan tanggapan dan keluh kesah masyarakat yang nantinya di pemilu 2019 suaranya sangat dibutuhkan untuk memuluskan langka menuju gedung dewan perwakilan rakyat.

 

Di jaman now yang serba digital, sebenarnya mendengarkan tanggapan dan aspirasi rakyat dapat dilakukan oleh calon legislatif ataupun incumbent DPR/DPRD. Misalnya dengan membuat situs atau web, melalui fanspage media sosial, melalui akun pribadi medsos (facebook, instagram dan twitter), dlsb. Dengan begitu, anda selaku caleg di era internet ini bisa setiap saat mendengarkan keluhan atau tanggapan terhadap anda maupun parpol tempat anda bernaung dan mengimplementasikannya dengan berbagai ide kreatif yang bermanfaat lagi di lapangan atau ke tengah-tengah masyarakat.

 

Jadi, intinya bahwa caleg yang peka mendengarkan tanggapan masyarakat pemilih akan dapat bersaing dalam konteks perebutan heart-share, yakni bagaimana memperebutkan segala hal untuk bisa masuk ke hati pemilih. Suatu petarungan untuk disukai melalui perbuatan nyata dan adanya respon yang baik di medium online. Konsep ini sangat baik bila diterapkan oleh calon legislator perempuan dalam konteks menggolkan caleg perempuan di parlemen, yang secara harfiah selalu dominan bicara menggunakan hati dan perasaan selaku seorang ibu rumah tangga dibandingkan dengan penggunaan logika.

 

3) Strategi Marketing 3.0

Dalam konsep pemasaran ini, keutamaan yang digadang-gadang untuk jual adalah isu-isu mulia, seperti kemiskinan dan lingkungan hidup. Nah, contoh isu seperti ini sudah mulai banyak dijual para caleg ataupun simpatisannya di media sosial.

 

Pemasaran 3.0 ini tidak lagi memperebutkan mind share atau pun heart share dari rakyat, namun sudah masuk ke isu kebersamaan diseluruh dunia sebagai manusia (human centric). Ya, konsep sederhananya untuk caleg adalah dipilih rakyat dari perilaku berbuat baik sebelumnya, jadi bukan menjadi anggota dewan atau caleg dulu baru dapat berbuat baik. Contohnya caleg yang bersangkutan pernah membina masyarakat di dapilnya sehingga mengurangi kemiskinan dan ataupun bencana alam atau sang caleg pernah memberikan modal kredit mikro kepada para penduduk miskin pendukungnya untuk mengembangkan usaha mereka agar dapat sukses bersama.

 

Nah, dengan menjalankan contoh diatas, maka dengan kata lain si caleg sudah memiliki basis pendukung di akar rumput hingga ke desa/kelurahan. Intinya, pernah terjun langsung ke penyelesaian masalah kemanusiaan yang terjadi di daerah pemilihannya jauh hari sebelum pemilu diselenggarakan.

 

4) Strategi Marketing 4.0

Konsep pemasaran yang satu ini merupakan pendekatan pemasaran yang mengkombinasikan interaksi online dan interaksi offline antara perusahaan (baca caleg atau partai politik) dengan pelanggan (rakyat atau konstituen).

 

Kalau dilihat, maka secara umum pola penggunaan marketing 4.0 bisa dipahami seperti itu. Apalagi di era ekonomi digital, interaksi digital saja tidaklah cukup untuk mengcover berbagai kebutuhan promosi atau kampanye. Kenyataannya, justru di saat dunia online berkembang pesat, kehadiran sentuhan offline menjadi titik diferensiasi yang kuat sebagai faktor penunjang.

 

Selain mengkombinasikan dunia internet (online) dan dunia nyata (offline), konsep penggunaan marketing 4.0 juga mengintegrasikan adanya style dan substance. Artinya, merek yang ada tidak hanya mengedepankan adanya branding bagus, tetapi juga konten yang relevan dengan pelanggan atau menyuguhkan konten yang bagus dengan kemasan yang up to date dan bagus.

 

Tak hanya itu saja, marketing 4.0 juga mengembangkan adanya konektivitas machine to machine dan artificial intelligence dalam rangka mendongkrak produktivitas. Akan tetapi, semuanya itu harus diimbangi dengan adanya pengembangan konektivitas human to human yang justru akan memperkuat adanya “customer engagement”. Intinya, pengembangan teknologi tidak berhenti pada teknologi itu sendiri, namun bagaimana teknologi ini dapat membantu merek dalam memanusiakan relasi dengan para pelanggannya kedepan.

 

Kami melihat, bahwa penyelenggarakan pemilu presiden/wakil presiden, legislatif dan pemilihan dewan perwakilan daerah bila ingin sukses dan terpilih, maka langkah menggunakan konsep marketing 4.0 ini haruslah dijalankan secara berkesinambungan.

 

Strategi Caleg Merayu Calon Pemilih

Belajar dari adanya teori marketing diatas, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian serius dari parpol/caleg, dimana adanya gerakan pemasangan brosur, iklan, baliho, umbul, dan spanduk secara massif dapat mengakibatkan timbulnya perubahan persepsi di masyarakat berupa rasa jenuh dan membosankan.

 

Disisi lain adanya pembatasan zona steril atribut parpol oleh Pemerintah Daerah dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menetapkan adanya ruas jalan yang tidak boleh dipasang alat peraga kampanye (APK) pemilu, seperti pada pelaksanaan pemilihan gubernur/wakil gubernur sumatera utara (sumut) 2018 lalu pada beberapa titik lokasi Kota Medan haruslah dijadikan cerminan untuk mempelajari strategi jitu dan efektif untuk penyebaran alat peraga kampanye pileg 2019.

 

Intinya untuk menghadapi zonasi steril APK tersebut, jangan memiliki pikiran bahwa masalah penyebaran bahan kampanye ataupun bahan sosialisasi caleg dalam skala yang sangat besar atau bahkan semuanya adalah penting untuk menggarap atau mendulang suara dari calon pemilih.

 

Cobalah dengan menerapkan metode lain, yakni menggarap kantong-kantong suara yang selama ini belum disentuh oleh parpol/caleg, seperti perumahan-perumahan menengah dan elit, apartemen, rumah sakit ataupun lembaga pemasyarakatan (penjara).

 

Ingat, bahwa tingkat partisipasi warga perumahan dalam pemilu legislatif (pileg) sangat rendah tidak sampai 20 persen. Alasannya kenapa banyak warga perumahan tidak memilih adalah karena tidak terlibat atau sudah apatis dan bisa saja tidak tahu parpol atau caleg mana yang hendak mereka coblos.

 

Munculnya rasa apatis masyarakat, karena tidak tahu apa manfaat dari penyelenggaraan pemilihan legislatif tersebut bagi dirinya sendiri maupun keluarganya. Bisa saja mereka beranggapan bahwa memilih atau datang mencoblos ke tempat pemungutan suara (TPS) adalah perbuatan sia-sia dan merugikan waktu mereka, oleh karena itulah mereka memilih menjadi apatis dan golput.

 

Nah, untuk orang-orang seperti itu, parpol/caleg hanya perlu melakukan pendidikan mereka dan berdialog secara langsung saja. Artinya, baik itu tim pemenangan, tim sukses (timses), relawan, simpatisan ataupun kader partai maupun caleg itu sendiri bisa melakukan word of mouth untuk menanamkan image yang baik kepada masyarakat tentang kehadiran parpol/caleg yang diusung atau dipilih nantinya.

 

Dari pada parpol dan caleg menggarap daerah atau kampung yang sudah digarap oleh kompetitor parpol/caleg lain, mending terjun untuk menggarap potensi suara di perumahan-perumahan menengah dan elit, apartemen, rumah sakit ataupun lembaga pemasyarakatan (penjara) yang memang butuh sekali sosialisasi produk kampanye parpol/caleg yang diwujudkan dalam bentuk visi & misi.

 

Adanya hal tindakan menggarap area yang terindikasi apatis diatas, juga merupakan salah satu upaya pendidikan politik (dikpol) untuk mengurangi angka golput yang masih tinggi. Serta bagian dari tugas partai politik modern untuk meningkatkan partisipasi politik rakyat dan sekaligus memberikan pendidikan politik yang benar terhadap masyarakat pemilih yang berada di daerah pemilihannya.

 

Mungin tak dapat dihindari, pada pemilu 2019 ini akan ada banjir atau perang brosur, spanduk, umbul-umbul, stiker, baliho dan iklan yang dipasang pada media cetak maupun elektronik. Tapi, segeralah keluar dari konsep mengikuti perang APK atau bahan sosialisasi yang umum ini. Ingat, bahwa masyarakat “zaman now” sudah pada pintar dengan mengkaitkannya pada kredibilitas sumber iklan yang bersangkutan.

 

Jadi agar iklan kampanye anda sukses dan mendapat perhatian masyarakat, maka libatkanlah sumber iklan anda. Misalnya bila anda akan membuat brosur yang berisi program anti korupsi, program KDRT, program mengentaskan kemiskinan, program solutif dan pro rakyat maka tidak ada salahnya memakai pihak lain baik untuk “frase” kata maupun gambarnya. Parpol/caleg bisa menggunakan teman, komunitas blogger, artis iklan, tokoh masyarakat (tomas), tokoh komunitas sepeda motor, pakar politik, konsultan hukum, petani, pedagang, pengamat ekonomi, supir angkot, abang becak, komunitas bisnis online, dlsb.

 

Adagium yang mengatakan bahwa setiap produk adalah nomor 1 dan selalu yang paling bagus. Artinya, hal yang biasa ditemukan bahwa banyak brosur kampanye yang mengatakan parpol/caleg mereka hebat dan terkadang bila berlebihan akan membuat citra menjadi kabur dan buruk.

 

Disamping itu, tak jarang dilapangan akan menemukan konten tools sosialisasi parpol dan caleg, seperti videotron, pamflet atau brosur yang sengaja dibuat satu paket tanpa memperhatikan segmen yang akan mereka bidik. Padahal, brosur sosialisasi dan bahan kampanye adalah untuk kalangan orang tua dan anak muda itu haruslah dibuat berbeda karena targetnya sangat berbeda. Misal, untuk kalangan orang tua, maka bisa menggunakan huruf sedikit besar, pesan yang disusun jangan massal, gambar dan testimoni diperbanyak, jangan gunakan tinta warna warni yang mencolok, gunakan frasa bahasa yang sangat santun, dlsb.

 

Parpol dan Caleg Harus Optimal Gunakan Internet Marketing

Memaksimalkan upaya dan strategi maupun sumber daya pemasaran merupakan faktor terbesar yang akan mempengaruhi kesuksesan dalam kampanye, terlebih-lebih dalam konteks mendulang suara. Ingat, agar jangan hanya terpaku dan merasa puas dengan strategi pemasaran melalui penggunaan tools marketing, seperti menyebarkan brosur, stiker, pamflet, spanduk, baliho, kaos, umbul-umbul saja.

 

Mengapa? Karena era marketing telah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi dan alat komunikasi. Itu artinya bahwa aktivitas marketing menjadi lebih luas dengan adanya internet dan maraknya penggunaan media online maupun medsos. Penggunaan internet dengan fasilitas yang terdapat di dalam internet dapat dipacu untuk melakukan aktivitas marketing modern yang dikenal sebagai e-marketing.

 

Salah satu konsep kampanye dengan menggunakan konsep e-marketing akan dapat menjangkau berbagai konsumen dalam suatu lingkungan yang belum dipenuhi oleh para pesaing, dimana target pemasarannya adalah konsumen yang telah terbagi-bagi ke dalam kelompok dan sangat terbuka peluang untuk mengembangkan dialog berkelanjutan.

 

E-marketing bagi parpol/caleg sangat relevan untuk dilaksanakan saat masuk tahapan kampanye dikarenakan perkembangan internet dan jumlah pengguna internet semakin meningkat setiap harinya. Teknologi telah berhasil mengubah paradigma internet dari yang semula “sombong” karena statis, pasif dan satu arah, menjadi demikian lebih cool, fun dan interaktif.

 

Contoh pemanfaat internet yang cool, fun dan interaktif dapat dilihat pada aktivitas di blog, media sosial (facebook, twitter, instagram, youtube, whatsapp) dan website yang menyediakan kotak komentar atau halaman tanya jawab. Ke depan pengguna internet diprediksikan akan lebih meningkat tajam sejalan dengan semakin mudah dan murahnya akses internet dan biaya pulsanya. Kemudian juga akan semakin banyak dan murahnya gadget atau smartphone android canggih yang dapat membantu mengakses internet, ditambah dengan semakin mudahnya akses internet di tempat-tempat publik, seperti restoran, kampus, cafe, hotel, gedung perkantoran karena adanya dukungan wifi gratis yang memiliki kecepatan tinggi.

 

Mengapa parpol ataupun caleg harus mengoptimalkan internet marketing menghadapi pemilu 2019? Jawabannya, karena potensi meningkatnya jumlah pengguna internet dan mobile web adalah pangsa pasar untuk mendulang suara dari pemilih pemula dan pemilih milenial.

 

Berdasarkan pengamatan kami dari blog silaenseo.com, bahwa di tahun 2018 setidak-tidaknya penetrasi pengguna internet mencapai 132,7 pengguna dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 265,4 juta jiwa. Selanjutnya dari jumlah pengguna internet tersebut, ada sekira 130 juta penduduk Indonesia yang menggunakan media sosial (medsos) seperti fb, twitter, instagram, whatsapp, dll.

 

Seandainya kita membandingkan antara jumlah pengguna internet dengan jumlah pengguna media sosial (medsos), berarti ada sekitar 97,9% pengguna internet di Indonesia sudah menggunakan media sosial. Sedangkan jika dibandingkan dengan total penduduk Indonesia, maka ada sekira 48 persen penduduk Indonesia telah mencicipi media sosial.

 

Melihat besarnya angka diatas, tentu saja masih terbuka peluang besar (baca potensi suara) untuk dimanfaatkan oleh kader partai, tim sukses (timses), relawan, tim pemenangan, simpatisan dan/atau caleg sebagai target mendulang suara pemilih dengan menjadikan mereka sebagai fans atau follow di sosial media.

 

Kemudian mereka para pengguna internet ini bisa juga diajak berinteraksi dan mensosialisasikan program unggulan, ide, visi & misi, dan gagasan kreatif parpol atau caleg yang diusungnya saat melakukan sosialisasi ataupun kampanye. Selain itu, kader parpol atau tim sukses maupun relawan bisa lebih fokus dalam membidik target yang akan di prospek. Sehingga selama interaksi di dunia maya (internet) mereka bisa menyaring akun-akun mana yang berpotensi menerima dan bersedia menyumbangkan suaranya pada pemilu 2019 nanti.

 

Kampanye kreatif ini harus dilakukan mengingat mahalnya biaya pasang iklan di media massa, seperti televisi dan harian cetak, sehingga tak ada jalan lain bagi parpol/caleg harus memanfaatkan internet marketing ini. Dengan begitu, parpol maupun caleg-nya bisa mengoptimalkan media sosial (twitter, fb, YouTube, insta, WA dan blog atau website personal) sebagai sarana pemasaran atau kampanye yang jitu. Mengapa? Karena database di facebook dan twitter cukup terkenal sangat targeted, juga memiliki akses terhadap insight user behaviour (wawasan perilaku pengguna).

 

Namun satu hal yang harus dipahami bersama bahwa dengan memiliki jumlah fans saja belum cukup, oleh karenanya kader partai atau tim sukses perlu menggugah interaksi lanjutan (seperti like, share, comment, retweet). Tentu saja sebelumnya, harus dipersiapkan berbagai bahan atau materi kampanye yang tidak ada habis-habisnya, setidaknya stok materi selalu ada hingga memasuki masa pencoblosan di tempat pemungutan suara (TPS).

 

Nah, tunggu apalagi, jika anda seorang caleg yang berambisi ingin duduk di kursi anggota dewan (DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota ataupun menjadi dewan perwakilan daerah (DPD), maka tak ada jalan lain selain harus “all out” kampanye untuk dirinya dari rumah ke rumah, RT ke RT, kelurahan ke kelurahan dari ke kecamatan ke kecamatan di dalam satu daerah pemilihan (dapil), sembari memanfaatkan internet marketing.

 

Ingat bahwa untuk menjadi anggota legislatif yang bisa duduk di gedung parlemen membutuhkan biaya politik mahal, namun bisa dikurangi dengan menggunakan strategi pemasaran online (internet marketing). Oleh karena itu, baik parpol dan juga caleg perlu membuat tim sukses atau tim pemenangan atau bisa juga mencari layanan jasa yang khusus menangani masyarakat pemilih yang intens berada di dunia maya dan berpengalaman serta profesional dalam memanfaatkan secara maksimal teknologi informatika untuk melakukan seluruh proses marketing yang massif dan butuh intensitas waktu yang banyak. Atau bisa mencari dan menghubungi jasa kampanye online yang ada dan berdomisili dekat anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kontes SEO Bisnis Online © 2017 Frontier Theme
error: Content is protected !!