Branding Pilkada Medan

Menilik Personal Branding di Pilkada Medan

Kampanye digital menjadi andalan pilkada di tengah pandemi Covid19. Pasangan calon (paslon) Walikota Kota Medan – Sumatera Utara, yaitu: Akhyar Nasution-Salman Alfarisi (Nomor Urut 01) dan Bobby Nasution-Aulia Rachman (Nomor Urut 02) bakal berebut 1.601.001 pemilih pada 9 Desember mendatang.

 

Di Pilkada Medan, pasangan nomor urut 01, Akhyar Nasution – Salman Alfarisi hanya diusung Partai Demokrat dan PKS. Melawan pasangan nomor urut 02 Bobby Nasution – Aulia Rachman yang diusung 8 partai politik antara lain PDIP, Gerindra, Golkar, NasDem, PPP, PAN, Hanura, dan PSI.

 

Sebagaimana diketahui, angka DPT 1.601.001 pemilih Kota Medan di pilkada tahun ini, tersebar di 21 Kecamatan dan 151 Kelurahan se-Medan dengan jumlah TPS 4.303, jumlah pemilih laki-laki 781.953 sedangkan perempuan 819.048.

 

Menilik angka DPT Medan diatas, wajar bila saat ini setiap pasangan dan atau tim kampanye/tim sukses lagi sibuk melakukan personal branding offline dan online untuk memenangkan Pilkada Medan 2020. Lalu, bagaimana cara dan proses personal branding akan memberikan keuntungan bagi pasangan calon walikota dan calon wakil walikota untuk memenangi Pilkada?

 

Branding Pilkada Medan

 

Sebagaimana diketahui, Personal Branding adalah istilah yang lazim digunakan untuk menggambarkan usaha branding nama seseorang. Biasanya merupakan upaya yang dilakukan untuk menjadi tokoh sentral dalam sebuah komunitas atau target audience yang disasarnya, dalam hal ini adalah pendukung atau pemilih.

 

Dalam menjalankan personal branding, prinsip dasarnya adalah membuat kamu mengatur persepsi terhadap diri sendiri. Caranya kamu dapat menceritakan pada audience siapa kamu secara organik dan kebetulan, sehingga audience akan berpikir persepsi itu dibangun oleh mereka sendiri.

 

Baca juga: Alasan Pentingnya Personal Branding di Pilkada

 

Sementara itu, bagi kandidat pasangan calon yang berlaga di Pilkada Medan, dalam prosesnya menurut pendapat saya (silaenseo.com) setidaknya akan melibatkan 5 (lima) langkah. Langkah pertama adalah brand awareness. Pada tahap ini, kandidat walikota/wakil walikota harus memperkenalkan diri nya kepada pemilih.

 

Langkah kedua adalah melakukan brand knowledge. Pada tahap ini harus dipastikan bahwa masyarakat Kota Medan, Sumut sebagai calon pemilih sudah mempunyai pemahaman utuh dan positif atas sosok calon walikota dan calon wakil walikota yang akan di pilih.

 

Ketiga adalah langkah brand preference. Dalam tahapan ini, calon pemilih sudah mulai melakukan review dengan cara membandingkan antara pasangan satu dengan pasangan lain. Langkah keempat adalah tahap brand liking. Pada tahap ini, calon pemilih mulai memiliki rasa suka terhadap sang kandidat.

 

Memang, perasaan suka tidak bisa diukur secara kuantitatif. Namun setidaknya, calon pemilih telah meletakkan pondasi rasa kesukaannya atau keberpihakannya kepada satu pasangan calon yang dianggap mampu menyahuti persepsi pemilih terkait figur walikota baru Kota Medan.

 

Langkah kelima adalah tahap brand loyality. Tahapan ini kuat mengindikasikan adanya kesetiaan dari calon pemilih kepada kandidat yang akan dipilihnya pada hari pemungutan suara. Menjaga loyalitas pemilih pada tahap ini merupakan tahapan berat dan paling krusial.

 

Baca juga: Mengapa Personal Branding Begitu Penting Bagi Setiap Orang?

 

Untuk itu, strategi yang tepat dan sesuai dengan protokol kesehatan sangat dibutuhkan dalam proses kampanye, dimana diharapkan dari masing-masing pasangan kandidat dapat memberikan sisi positif. Dengan begitu, pemilih dapat melihat siapa sosok kandidat.

 

Eksistensi Branding untuk Pilkada Serentak

Eksistensi branding saat penyelenggaraan pilkada serentak merupakan hal penting dalam kegiatan politik marketing. Secara sederhana branding dapat diartikan sebagai ‘pemberian merk’ terhadap suatu produk (figur pemimpin). Tujuannya untuk menanamkan kesan yang tidak terhapuskan (indelible impression) dari benak audience.

 

Sayangnya, masalah branding ini masih belum banyak dipahami oleh banyak pengambil keputusan, dimana cenderung branding dipersepsikan sama dengan kegiatan marketing communication. Jadi branding disangka merupakan kegiatan marcom, yaitu seputar pembuatan logo, slogan, iklan, event, poster, spanduk, umbul-umbul dan pameran semata.

 

Secara etimologis branding berasal dari kata brand yang sering diartikan sebagai sekumpulan pengalaman dan asosiasi, yang berhubungan dengan pelayanan, orang atau entitas lain. Seiring perkembangan zaman, saat ini brand sudah diartikan sebagai aksesoris kultural dan filosofi personal.

 

Brand merupakan identitas atau kepribadian yang berkelanjutan untuk mengidentifikasi sebuah produk, layanan atau lembaga ke dalam bentuk nama, tanda, simbol, design atau kombinasi di antara hal-hal itu. Selain itu, brand sekarang ini dapat diterjemahkan sebagai totalitas pengetahuan konsumen (audience) tentang apa yang diketahui, dipikirkan, dirasakan dan diasosiasikan tentang suatu produk dan jasa atau suatu lembaga.

 

Secara teori, brand biasanya dibagi menjadi dua, yakni: 1) brand experience, dan 2) brand image. Brand experience merupakan pengalaman yang dimiliki pasar atau konsumen atas kontak yang mereka lakukan terhadap merk tertentu. Sedangkan, brand image lebih menyangkut pada persoalan psikologis, yakni bangunan simbolik yang tercipta di dalam pikiran pasar atau konsumen (audience). Hal ini terdiri dari semua informasi dan harapan, serta sering diasosiasikan dengan produk atau jasa sebuah merk. Brand image sering dihubungkan dengan pemikiran, citra, perasaan, persepsi, keyakinan atau sikap.

 

Brand menyangkut dari hal besar sampai yang paling detil dari sebuah produk atau jasa. Dari karakter personal hingga huruf dan warna logo yang digunakan, dan dari yang berbentuk fisik hingga non-fisik. Karena itu, banyak pakar yang menyatakan bahwa brand merupakan payung (umbrella) di dalam dunia marketing, karena brand manaungi setiap hal detil pada strategi marketing.

 

Sementara itu branding juga merupakan keseluruhan aktivitas untuk menciptakan brand yang unggul (brand equity), yang mengacu pada nilai suatu brand berdasarkan loyalitas, kesadaran, persepsi kualitas dan asosiasi dari suatu brand. Branding bukan hanya untuk menampilkan keunggulan suatu produk, namun juga untuk menanamkan brand ke dalam benak konsumen.

 

Branding dikaitkan dengan panggung politik dan pilkada langsung, maka banyak orang yang menyatakan bahwa branding sering kali hanya diartikan sebagai tindakan pencitraan atau pembangunan image terhadap citra diri kandidat, yakni pada karakter personal kandidat.

 

Dalam hal ini branding politik di pilkada serentak, dapat diartikan sebagai semua pengalaman, aktivitas dan unsur psikologis dalam menciptakan brand politik yang unggul, unik, menarik dan mampu memberikan pengaruh yang kuat ke dalam benak konsumen (audience/calon pemilih).

 

Pada pembangunan branding politik yang baik untuk memenangkan pilkada, diperlukan adanya prasyarat teknis yang harus dipenuhi, yakni penyampaian pesan secara jelas dan komunikatif, mempertegas kredibilitas diri, adanya hubungan target market yang prospektif kepada brand secara emosional, memotivasi target market, membangun loyalitas target market secara berkesinambungan.

 

Baca juga: Tips Membangun Personal Branding Dalam Karir dan Bisnis

 

Di samping itu, untuk meraih sukses dalam branding, maka kandidat Pilwali Medan harus memahami kebutuhan dan keinginan pasar (warga Medan) dan bagaimana prospeknya dalam hal menarik pemiih untuk memilihnya di hari pemungutan suara. Hal ini dilakukan dalam setiap kontak dengan publik.

 

Namun, memiliki brand kuat bukan perkara mudah di dalam kontestasi politik. Butuh waktu, konten dan strategi pemasaran yang tepat, serta adanya strategi untuk mematahkan kampanye negatif maupun hitam. Brand yang kuat, merupakan brand yang dikenal luas, dimengerti maknanya, disukai, selalu dipilih pada tiap kesempatan, dan direkomendasikan kepada konsumen atau pemilih lain secara berantai.

 

Tak hanya itu, brand yang kuat juga mendapatkan posisi yang baik di mata publik, di mana cita-cita si konsumen sudah sama seperti apa yang dipikirkan setiap konsumen.

 

Sama halnya dengan Pilkada Walikota Medan nanti, siapa yang memiliki personal branding paling kuat, sosok yang paling disukai, mampu mewakili cita-cita pemilih, serta mampu mematahkan serangan kampanye negatif dan atau hitam dipastikan akan menjadi pemenang pada pilkada serentak 9 Desember 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *