Pemasaran di Pandemi

Perubahan Pola Pemasaran di Masa Pandemi

Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto, menyebutkan: ‘penerapan pemasaran konvensional tidak bisa lagi tepat dijalankan saat ini, akibat adanya protokol kesehatan di masa pandemi, yakni keharusan menjaga jarak.’

 

Benar adanya pernyataan Mendag ini, sehingga menurut saya (silaenseo.com), pengusaha dan para entrepreneur harus ‘all out’ mencari dan menemukan solusi terbaik dari strategi pemasaran yang akan digunakan. Tujuannya, agar usaha mampu bertahan dan bahkan menembus pasar ekspor di tengah pandemi virus corona (covid-19) yang belum pasti kapan berakhir.

 

Sebagaimana dirasakan, adanya pandemi telah mengganggu sistem perekonomian, mengubah tatanan dan dimana agar bisa bertahan (survive) mau tak mau atau suka tak suka, bisnis yang ada harus menyesuaikan diri pada keadaan yang ditimbulkan oleh pandemi. Dengan social distancing (jaga jarak), maka strategi pemasaran yang selama ini digunakan dengan metode pendekatan konvensional sudah tidak cocok lagi diterapkan dan sangat berbahaya karena bisa menyebarkan virus corona.

 

Baca juga: 9 Strategi Pemasaran Properti di Masa Pandemi dan PSBB

 

Ada beberapa kiat dan tips agar usaha mampu survive dan atau sukses di masa pandemi, yakni:

 

1) Penerapan Strategi Pemasaran Empathy Society

Maksudnya, strategi yang mengedepankan empati dalam komunikasi pemasaran kepada target pasar yang dituju, meski konsumen nya masuk dalam jangkauan yang lebih luas.

 

Pemasaran di Pandemi

 

Dasar penggunaan strategi ini, mengingat adanya sisi lain yang dimiliki dari pandemi, yakni melahirkan perilaku masyarakat baru yang penuh empati dan sarat solidaritas sosial maupun respect menjalankan protokol kesehatan.

 

2) Memaksimalkan Pemasaran Multimedia

Era digital telah menciptakan adanya sistem multimedia marketing atau pemasaran digital yang memberikan informasi dan menjawab semua keluhan atau kebutuhan pelanggan melalui berbagai platform informasi, baik website atau blog proporsional, media sosial (instagram, twitter dan facebook), surat elektronik (surel atau email) hingga pesan aplikasi pada layanan pesan singkat, seperti line, whatsapp atau telegram.

 

Telisik juga: 7 Hal Penting Buat Sales Marketing Saat Jakarta PSBB

 

3) Strategi Pemasaran Memakai Produk Go Virtual yang Aman

Saat ini, jaminan keamanan terkait produk yang ditawarkan dan strategi go virtual atau digital dilakukan dengan terlebih dahulu memastikan bisnis perusahaan (produk barang dan jasa) benar-benar aman. Strategi pemasaran harus dicari solusinya oleh para pelaku usaha dan marketer, agar bisa sepenuhnya dijangkau dalam jaringan (daring atau online). Mengapa? Karena konsumen saat ini sebagian sudah beralih menggunakan media digital untuk mencari, menemukan, membeli dan bertransaksi.

 

Dengan penggunaan media digital, pelaku usaha dapat memasarkan produknya lebih luas hingga ke pasar global tanpa batas waktu dan area. Dengan begitu, seluruh produk Indonesia memiliki peluang yang besar merambah pangsa pasar dunia. Pasalnya, hingga 2019 lalu, porsi ekspor Indonesia terhadap total ekspor dunia kurang dari satu persen yakni 0,89 persen dengan realisasi ekspor mencapai 167,49 miliar dolar AS.

 

Telisik juga: Kiat Marketing Usaha Showroom Motor di Masa Pandemi

 

Selain itu di tahun yang sama, posisi Indonesia dalam perdagangan global masih berada di peringkat ke-32 atau masih di bawah Singapura yang menduduki peringkat 15, Vietnam posisi ke 19, Thailand ada di peringkat 24, dan Malaysia di posisi 25.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *