Advokat - Lawyer

Strategi Marketing Jasa Advokat dan LegalPreneur

Semarak pegiat legal preneurship dan advokat banyak kebingungan saat memasarkan jasanya, apalagi di zaman digital ini. Hal ini disebabkan, minimnya kemampuan lawyer atau konsultan dalam pemasaran ‘personal branding’ disinyalir menjadi salah satu kendala dalam eksistensi law firm marketing. Padahal, ketepatan strategi marketing sangat menentukan nasib kantor hukum ke depan.

 

Terkadang sebagai legal entrepreneur, anda terlalu bersemangat saat menjelaskan manfaat jasa hukum yang ditawarkan. Seolah-olah layanan yang ditawarkan sudah pasti dibutuhkan dan bermanfaat bagi klien. Tapi disisi lain, jasa advokat lupa untuk melakukan validasi, apakah jasa hukum yang ditawarkan mampu menjadi solusi yang efektif dan efisien untuk klien.

 

Validasi menjadi penting, sebab aktivitas marketing advocates pada dasarnya merupakan seni memahami keinginan klien. Bila hal ini tidak diperhatikan dengan baik, bukan tidak mungkin legal preneur akan keliru dalam menetapkan strategi marketing berbasis kekinian.

 

Advokat - Lawyer

 

Sebagaimana diketahui, strategi marketing dalam layanan jasa hukum bukan perkara mudah. Dimana para legal preneur terikat dengan kode etik yang harus dipenuhi saat mengenalkan jasa hukum yang ditawarkan ke calon klien. Nah, agar kegiatan marketing berjalan efektif, kamu dapat mengikuti 5 (lima) langkah dan strategi berikut:

 

1) Identifikasi Customer Value

Tahapan ini merupakan bagian penting, dimana legalpreneur harus jeli menangkap customer insight. Untuk itu, penting bagi legal preneur untuk memahami situasi yang sedang terjadi di dalam dunia teknologi, sosial kemasyarakatan, ekonomi, budaya, dan kondisi pasar.

 

Langkah awal untuk mengidentifikasi customer value dapat dilakukan dengan menentukan segmentasi pasar. Hal ini dilakukan, agar legal-preneur dapat memetakan calon klien yang potensial. Pemetaan dapat dilakukan berdasarkan geografis, behaviour, jenis kelamin (gender), profesi atau pekerjaan, dan lain sebagainya. Selanjutnya, legal preneur dapat memilah klien potensial sesuai dengan value yang dimiliki.

 

2) Creating

Setelah melakukan identifikasi customer value, jasa advokat harus mulai fokus berkreasi untuk mencari solusi atas permasalahan atau pain yang dihadapi oleh calon klien.

 

Penting dipahami, creating bukanlah sekedar mencipta ide. Proses ini menuntut para pengacara yang menjadi legal preneur harus menyusun strategi jitu untuk menawarkan solusi efektif yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan calon klien yang dituju. Maksudnya, legal preneur harus banyak melakukan riset untuk menghasilkan rencana aksi yang mumpuni. Jangan lupa, para lawyer juga harus mempertimbangkan kapasitas dan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki.

 

3) Delivering

Delivering memaksa para legal preneur untuk menjalankan konsep creating secara total. Sehingga, penting bagi legal preneur untuk menunjukkan performa jasa hukum dan jasa advokatnya sebaik mungkin.

 

Nah, supaya delivering berjalan sukses, legal preneur wajib memiliki infrastruktur yang mumpuni. Keadaan ini menuntut legal preneur agar tidak tanggung-tanggung dalam menggelontorkan dana untuk operasional, fasilitas, dan teknologi yang tepat sasaran.

 

Legal preneur harus mengerti dengan benar jika kekuatan infrastruktur akan berpengaruh signifikan dalam menunjang strategi marketing lawyer yang dijalankan.

 

4) Communicating

Communicating merupakan satu kemampuan untuk berbicara soal menyampaikan pesan pada klien sesuai customer value. Tahap ini menuntut setiap legal-preneurship menampilkan strategi komunikasi yang komprehensif dan mudah dipahami. Artinya, para legal preneur harus menyampaikan manfaat dan nilai lebih produk jasa hukum sebagai poin utama.

 

Legal preneur juga sebaiknya melakukan strategi komunikasi dengan cara storytelling. Metode storytelling ini menjadi pilihan ampuh yang mampu menjembatani value dengan jasa hukum yang ditawarkan oleh para pengacara. Nah, agar bisa menggunakan storytelling sebagai bagian strategi communicating di era millennial, para legal preneur harus bisa membuat cerita yang dipercaya sekaligus disukai calon klien.

 

Adapun syarat utama yang dibutuhkan untuk membuat kisah yang baik adalah dengan melakukan komunikasi terhadap orang-orang yang akan mendengarkan cerita. Klien pun dapat dilibatkan dalam proses penyusunan cerita atau mungkin saja cerita yang dibangun justru berdasarkan dari pengalaman klien sendiri.

 

5) Maintaining dan re-Identifying

Maintaining berarti menjaga performa layanan jasa hukum yang ada dengan baik. Namun, kalau hanya sekedar memelihara kinerja tidaklah memadai. Justru, legal preneur harus selalu memeriksa kembali kesesuaian antara value yang dibangun dengan performa jasa hukum yang diberikan para advokat atau pun konsultan hukum.

 

Legal preneur sebaiknya menjalankan re-identifying secara berkala. Tujuannya tentu untuk selalu beradaptasi dengan tren yang sedang berjalan. Identifikasi ulang ini sedikit banyak akan membuat perubahan berkala pada kegiatan operasional tanpa menghilangkan esensi jasa layanan hukum itu sendiri.

 

Pentingnya Online Presence Bagi Advokat

Terkait perkembangan zaman dan teknologi yang sebagian besar serba digital, mau tak mau membuat para lawyer wajib mengadopsi digital marketing dalam menjalankan jasanya sebagai advokat. Artinya, seorang pengacara harus mau belajar online presence. Dengan begitu, aktivitas offline dan online harus dikombinasikan. Pasalnya, saat ini Indonesia merupakan pasar digital untuk para lawyer. Sehingga, perubahan perilaku konsumen atau pengguna jasa hukum secara digital harus direbut agar tidak jatuh ke para lawyer luar negeri.

 

Ingat, bahwa pasar jasa bagi lawyers mulai bergeser dan ada di internet. Untuk itu, online presence adalah hal pertama yang sangat penting untuk dijalankan para lawyer. Mengapa? Karena, sekarang ini orang mudah pakai gadget dan smartphone untuk mencari informasi bantuan hukum yang mereka butuhkan. Misalnya, mencari dasar hukum, contoh surat kuasa, mencari alamat kantor pengacara. Semua datanya bisa ditemukan atas bantuan google, dengan cara oke google aja.

 

Hal itu, juga dilakukan oleh banyak orang untuk mencari lawfirm, dimana biasanya akan melakukan googling atau browsing misal mengenai kasus-kasus perceraian non islam, atau bagaimana proses perkara-perkara perceraian di pengadilan negeri melalui pengacara. Mereka mencari informasinya adalah dengan memakai internet. Jadi memiliki online presence sangat penting bagi seorang lawyer maupun para legal preneurship.

 

Selain itu, hal lain yang perlu diperhatikan adalah strategi digital marketing yang jelas yang memuat dan mendeskripsikan: a) apa tujuan marketing; b) kapan kamu mencapai tujuan tersebut; c) bagaimana kriteria kesuksesan marketing menurut kamu; d) bagaimana kamu bisa mencapai tujuan tersebut; serta e) siapa yang akan melakukan eksekusi.

 

4 (empat) pertanyaan dasar marketing diatas, menjadi penopang atas adanya manfaat pemasaran digital dari ragam strategi media online yang bisa digunakan dalam meraih sukses di jasa lawyer dab atau bisnis bantuan hukum lainnya. Namun, tanpa strategi yang tepat untuk mengoptimalkan nya, maka hasilnya juga tidak akan efektif akibat tidak adaptif terhadap tren pemasaran yang menyediakan ceruk pasar yang sangat melimpah.

 

Cara-cara konvensional yang dilakukan dengan membagikan kartu nama atau membuat pamflet di jalan menuju alamat kantor hanya membuang uang dan tenaga. Begitu juga dengan advertising by paper atau promosi ‘terselubung’ dengan bahan cetakan yang selama ini banyak dilakukan lawyer sudah dianggap usang. Pasalnya, cara ini memiliki berbagai hambatan jarak dan waktu, sehingga ceruk pasar sangat terbatas.

 

Beda dengan digital marketing lawyer, selain dapat menjangkau wilayah di sekitar wilayah kamu dan kantor, pemasaran online juga mampu menjangkau sebuah negara atau bahkan seluruh dunia. Advokat pun bisa menjadi lebih cepat dikenal atau jadi pengacara kondang hanya dengan internet.

 

Tentu semuanya didukung adanya kemudahan dalam mengelola dan menjalankan strategi marketing pada jasa lawfirm kamu. Presentasi yang biasanya harus dilakukan dengan tatap muka telah diganti secara online. Kamu juga tidak membutuhkan staf untuk menjalankan strategi marketing karena proses personal branding berjalan lebih efektif. Proses evaluasi tentang efektivitas marketing pun akan lebih mudah dilakukan dalam membangun komunikasi dengan klien untuk meningkatkan loyalitasnya terhadap jasa pengacara.

 

Jenis Media Untuk Digital Marketing Advokat

Sekarang ini, ada banyak jenis dan bentuk media digital marketing pengacara yang bisa digunakan agar manfaat pemasaran di internet bisa lebih optimal. Dalam catatan saya (silaenseo.com), ada berikut jenis media pemasaran yang cocok digunakan para lawyer maupun legal-preneur, yaitu:

 

1) Search Engine Marketing (SEM)

Saat ini, google merupakan mesin pencari paling terkemuka didunia dan digunakan mayoritas pengguna internet. Bahkan, google menjadi rujukan dan pusat informasi tentang materi hukum apapun. Karena itu, kamu harus melakukan serangkaian tindakan pada pemasaran mesin pencari atau Search Engine Marketing ini, melalui google ads, bing ads, dan lain sebagainya.

 

Tapi, agar maksimal dan efektif, maka kamu harus memiliki website kantor pengacara atau blog niche jasa hukum. Situs tersebut juga harus dioptimasi dengan menerapkan strategi Search Engine Optimization (SEO) yang bersandar pada human friendly.

 

Menelisik: Layanan Jasa SEO dan Pemasaran Internet di Medan

 

Ingat, perjuangan menuju halaman 1 google dan di peringkat paling atas tetap harus juga didukung oleh skill maupun profesionalitas yang baik. Karena, strategi digital marketing para pemberi jasa dari konsultan hukum hanya untuk mendapatkan leads (calon klien). Dengan teknik inilah, maka manfaat pemasaran online akan dapat membuat terkenal dan sukses di kancah bisnis kepengacaraan.

 

Baca juga: Cara Membuat Konten Pemasaran Ranking Pertama di Google

 

2) Platform Sosial Media

Besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia ternyata didominasi penggunaan media sosial, seperti facebook, instagram, twitter dan linkedin. Diperkirakan, setiap orang dewasa pasti memiliki sebuah smartphone yang digunakan tak hanya untuk telepon, namun juga untuk berinternet dan atau mencari berbagai informasi lainnya.

 

Yang menarik, ternyata platform sosial media kebanyakan diakses orang melalui smartphone atau handphone canggih lainnya. Nah, agar manfaat online marketing lawyer lebih optimal, maka strategi promosi dan pemasaran yang dilakukan harus pula memperhitungkan format yang disediakan dalam fitur ponsel.

 

3) Konten dalam Bentuk Video Marketing

Konten video marketing saat ini makin efektif untuk mendongkrak kinerja pemasaran online, termasuk mempromosikan dan/atau memasarkan jasa advokat secara online. Popularitas channel youtube sebagai situs berbagi video terbesar juga menyediakan pasar yang sangat luas yang terbuka untuk digunakan. Apalagi media sosial (medsos) secara nyata-nyata juga menyediakan fitur video yang bisa untuk promosi.

 

Baca juga: Strategi Konten Visual Marketing Untuk Bisnis 2021

 

Itulah berbagai manfaat dan ragam contoh pemasaran online agar cepat meraih sukses jasa kepengacaraan kamu. Selain berbagai media digital online di atas, kamu juga perlu memanfaatkan jenis media lainnya, seperti email, marketplace, facebook ads, twitter ads, tiktok ads, dan ragam platform populer lain sebagainya.

 

Selain itu, seorang lawyer juga harus mampu memberikan jasa hukum dengan kualitas terbaik, serta cerdas memberikan solusi hukum untuk membantu klien dan atau mempertahankan segala hak dan kepentingan klien di hadapan hukum maupun mitra bisnis.

 

Baca juga: Ragam Digital Marketing yang Populer di Indonesia

 

Ingat, bahwa strategi digital marketing hanya mempermudah lawyer berinteraksi langsung untuk menarik klien dan atau mendapatkan leads (calon klien). Namun, untuk kemudian mau menjadi klien, tentunya sangat tergantung pada bagaimana cara lawyer tersebut berinteraksi, berbicara, menyampaikan ide agar terbangun engagement hingga lahirlah trust (kepercayaan). Artinya, advokat juga perlu memahami perjalanan klien (buyer’s journey). Dimana, sebelum menjadi klien biasanya berawal menjadi visitor dulu, kemudian menjadi orang yang nanya-nanya dulu, kita kenal yang namanya leads, kemudian dia oke akhirnya dia jadi klien.

 

Untuk itulah, website atau blog milik para lawyer Indonesia yang bersandar pada digital marketing harus menyediakan konten seputar informasi dan edukasi yang diperlukan dalam market law firm nya. Mengapa? Karena, semua strategi diatas tetap harus didukung oleh content yang berkualitas dan mampu menarik klien. Di era digital, semua mencari informasi yang dibutuhkan oleh target market-nya.

 

Intinya, di era digital bahwa content is king, website kantor hukum merupakan brand yang dapat membuat sukses di persaingan global para lawyer untuk mendapatkan klien lokal dan juga luar negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *